RSS

Ketika kami (terlihat) tidak ideal

KETIKA KAMI (TERLIHAT) TIDAK IDEAL


Kami bukan pasangan ideal.

Istri berangkat kerja pagi-pagi.

Suami bukakan pintu gerbang masih sarungan.

Tapi ada yang patut kusyukuri.

Ketika istri nyuci tak sempat jemur kerena ngejar absen, dia turun ambil bagian.


Kami bukan pasangan ideal.

Ketika istri seharusnya lihai di dapur.

Seringnya malah pesan makanan online.

Tapi tak putus kusujud syukur.

Apapun yang tersaji tak pernah terdengar komplain.


Kami bukan pasangan ideal.

Ketika istri seharusnya diantar-antar.

Seringnya malah berkendara sendiri.

Tapi ada yang harus kupahami dengan nalar.

Ketika mobilitas usahanya menuntutku untuk mandiri.


Kami bukan pasangan ideal.

Istri terikat jam kerja.

Suami mandiri dengan jam kerjanya tak kenal tanggal merah.

Tapi adalah pantas aku berbangga.

Dia mampu berusaha di atas kakinya sendiri tanpa kenal lelah.


*****


Dengan segala ketidakidealan itu kami manautkan jari, menyeimbangkan langkah, mendayung perahu untuk bisa maju bersama. 


Ketika ekonomi keluarga oleng kekiri karena dayungan suami lemah

Aku siap bantu mendayung ke kanan agar tak jatuh tenggelam.


Dengan segala ketidak idealan itu, kami saling menerangi dalam gelap, untuk saling menuntun dan merayap bersama untuk bisa bangkit ketika sulit.


Ketika dia jatuh rugi dalam usahanya.

Tugasku bukan marah, tapi mensupport agar dia tak hilang arah.


Ketika aku merasa lelah pulang kerja dan cucian numpuk.

Dia siap memijitku walau sambil mengantuk.


Dengan segala ketidakidealan itu, kami berusaha mencari bahagia.


Bahagia yang sederhana, ketika suami mau membantu membelikan tabung gas ketika habis sambil menggendong anak pake jarit ke warung.


Bahagia yang tidak sempurna,

Ketika aku siap mengganti nyetir ketika dia lelah macet mengantar kiriman ikan.


Bahagia yang dicapai tak mudah,

Ketika nekat bersama mengantar anak super aktif ke podium juara karate, mendukung si hobi matematika, bersabar mensupport anak yang perfeksionist visual.


Dengan segala keterbatasan waktu antar jemput dan padatnya jadwal latihan.


Dengan segala keterbatasan ilmu dan teori pengasuhan.


*****


Menikah itu bisa susah

Susah ketika hati trus menunggu ideal.


Cari suami ganteng, tajir melintir, kerja mapan kantoran. 


Faktanya, kaya itu lebih nikmat terasa ketika dibangun bersama dari nol besar.

Rejeki itu luasss jika diraih dengan kerja keras.


Cari istri cantik, bening, pinter masak, pinter segala-gala.


Nyatanya, cantik itu kerena dimodali, pinter itu kerena diajari.


Menikah itu bisa jadi mudah


Mudah ketika pernikahan disyukuri dan diolah tanpa lelah, bersama, walau terlihat tidak ideal di sana sini.


****


TIDAK PERLU MENUNGGU IDEAL UNTUK BAHAGIA, TIDAK PENTING SELALU TERLIHAT ‘MAINSTREAM’ BAIK-BAIK SAJA, YANG TERPENTING KITA BISA HIDUP BENAR APAPUN KONDISINYA.

 

“Kalian mau seperti ibu yang pergi pagi pulang sore atau seperti bapak usaha sendiri tanpa terikat jam kerja??”


“Mau kayak Ibu tapi punya usaha kayak Bapak!”


Syukurlah si anak bisa mengambil sisi baik dari orang tuanya.


Bogor10052019


*suatupagimenjelangberangkatkerja*


blognyaelin.wordpress.com

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on May 10, 2019 in Uncategorized

 

Orang tua vs prestasi anak

Beberapa kali mengantar keinginan anak-anak mengikuti lomba-lomba sesuai passion-nya banyak cerita dan kisah yang bisa diambil. Sedikit demi sedikit sesuai yang diingat saja, mohon ijin ingin kubagi disini.

“Ngapain sih anak dilomba-lombain kayak ayam aja pake diadu?”

Hmm…canda emang tapi agak sarkas membandingkan anak dengan ayam, emangnya anak ayam. 😀

Bagi emak mengijinkan anak-anak ikut lomba bukan niat meng-adu kemampuan dalam arti negatif. 

Pertama, emak tidak pernah sekalipun mengikutkan les atau lomba ke anak tanpa keinginan dari anaknya sendiri, apalagi maksa-maksa. 

Sebagai contoh di tempat latihan karate si bungsu, ada anak yang dari sabuk putih sampai sabuk hijau tidak ada perkembangan sama sekali di latihannya, setiap latihan dia menangis dan mata selalu tertuju ke mamahnya, tidak fokus latihan. Bisa disimpulkan dia tidak suka dengan kegiatan itu dan bisa jadi dia ada disana karena takut orangtuanya. 

Apa yang didapat dari itu? Tidak ada, prestasi anak bukan hasil ambisi orangtuanya, tapi dari hal yang disukai anak untuk ditekuni.
Kedua ketika anak ikut  lomba, emak hanya ingin menunjukan pada anak jika ingin menjadi lebih baik dan menang maka berusahalah, jika kalah itu artinya di bidang apapun, setinggi apapun posisimu, selalu ada langit di atas langit, maka kesombongan adalah musuh kesuksesan.

Emak gak kecewa pas anaknya kalah? Kecewa itu wajar ada, tapi gak wajar jika berlarut-larut.

Emang ada ortu yang kecewanya berkepanjangan? Banyak.

Setidaknya beberapa saya temui ketika usai lomba.

Anak kalah, ortu gak mau lagi antar latihan, kecewa berat, merasa anak sudah bagus tapi kalah. Di arena apapun bisa terjadi. Faktor keberuntungan jangan pernah dianggap remeh. Jangan sekalipun ada sombong dalam kompetisi, karena itu menghancurkan mental anak dan menjegal keberhasilan.

Ada lagi, ortu berharap anak juara 1, jebulnya ‘cuma’ dapat juara 3. Apa komentar ortu,”kok cuma juara 3 sih??”

Please deh mommy, coba mommy yang ikut lomba pelajaran yang diikuti ratusan orang. Juara 3 itu udah ‘wow’ banget. Kenapa juga kalimat itu yang muncul??!!

Again, jangan jadikan prestasi anak menjadi ambisi orangtua, hasilnya bukan juara, tapi akan banyak rasa kecewa bagaimanapun hasilnya. Menang gak puas, apalagi kalah.

*****

Si Sulung,

Dia tidak pernah menunjukkan passionnya yang khas sampai saat ini, anaknya lurussss kayak jalan tol, yang khas dari dia karena dia anak perfeksionist visual, membuat dia suka dipilih guru untuk lomba menulis halus, karena tulisannya yang rapi jali. Di sekolah dia sering menjadi ‘tukang nulis’ di papan tulis dan ‘tukang beberesih’. Ditawarkan les apa aja dia jalani dengan lurus tanpa absen, walau hasilnya standar-standar aja. Pembawaannya yang santai bikin adem sekaligus ketar-ketir, “ini anak bisa apa enggak sih??”. 

Dia itu bapaknya banget yang berprinsip ‘hidup pas-pasan’ yaitu pas butuh (nilai bagus) pas (dapat nilai itu). Gak perlu tergopoh-gopoh dan ‘ngoyo’ untuk meraihnya. Santai kayak dipantai. Jadi buat apa dipaksa-paksa kompetisi atau les-les yang dia gak suka? Soklah, jadi dirimu sendiri!!

*****

Tengah,

Passionnya di matematika memang terlihat dari nilai-nilainya yang menonjol di sekolah. Dia selalu bersemangat ikut-ikut lomba di bidang itu, walaupun belum pernah jadi yang terbaik atau juara 1 di luar sekolah. Dia pernah tanya ke emak ketika 4 kali lomba dia belum juga tembus di 3 besar: 

“Ibu suka ikut lomba-lomba dulu?”

“pernah!”

“Menang?”

“kadang menang seringnya kalah!!”

“Ama gak pernah menang!!”

“Tadi peserta lombanya berapa?”

“348 orang!!”

“Ama peringkat berapa?”

“6”

“Dibawah ama sisa berapa orang?”

“342 orang!”

“Bukankah artinya Ama sudah mengalahkan 342 orang?”

“Ama menang dong!!”

“Ya iyalah … Dulu ibu pernah juara 1 tapi pesertanya 10 orang. Nah hebat mana tuh??”

“Hebat Amalahhh!!”

Dan kami bergandeng tangan cekikikan menyusuri jalan merdeka bogor sepulang lomba itu.

*****

Bungsu

Tanpa sengaja nyebur di kolam yang benar. Dunia karate sudah menjadi passion-nya. Pas dengan jiwa ‘pethakilannya” dan jiwa seninya yang menitis dari kakeknya sesama kidal.

Kompetisi dan lomba buat dia, dia jalani karena suka, itu aja. Menang bagi dia adalah bonus. Bonus terindah juga bagi ibunya yang sering mau menyerah mengantarnya latihan.

Entahlah, menang kalah buat dia dan emak bukan tujuan. Dunia karate sudah jadi solusi atas kekurangan dia buat emak. Yang tadinya gerak aktif gak karuan sekarang lebih terarah. Yang tadinya tidak bisa tertib dan fokus dikelas sekarang sudah bisa duduk manis di kelas menyimak pelajaran. Yang tadinya sakit-sakitan, Alhamdulillah sekarang fisiknya lebih kuat karena latihan.

*****

Bismillah, 

Langkah ini tertatih-tatih, tangan ini merayap-rayap mencari celah bagaimana seharusnya membawa dan mendidik anak-anak. Satu hal yang selalu emak pegang adalah omongan bapaknya,”jangan pernah lupakan pendidikan bekal akhirat anak-anak, kejarlah itu maka sukses duniawi akan mengikuti!!”

****

SERINGKALI ORANG TUA KAGUM MELIHAT HASIL PRESTASI ANAK, TAPI LUPA MENGUMPULKAN TENAGA DAN KEBERANIAN UNTUK MENJALANI PROSESNYA. PROSES TERBAIK ADALAH YANG DIJALANI SUKA SAMA SUKA ANTARA ANAK DAN ORANGTUANYA.

Bogor, 17032019

blognyaelin wordpress.com

 
Leave a comment

Posted by on March 17, 2019 in Uncategorized

 

Ibu demam dan anak ‘ngeyel’


Anak ini, keras, emosional, dan njelimet. Tiga kata yang menunjukan emak tak pandai melihat kelebihan anak.


Trus mau cerita apa sih? 


Mau cerita sedikit saja kelebihan dia yang sering luput dari pujian emak.  Anak ini sangat bersemangat. Dalam arti tidak hanya bersemangat ketika dia menang, namun tak patah arang ketika dia kalah.


Ini baru kusadari telat beberapa bulan belakangan ini, karena suatu peristiwa.


Dalam 2 bulan belakangan ini full dia ikut di 4 ajang kompetisi matematika. Dan hari ini dia sedang ikut di kompetisi yang sama. Sementara emak ndeprok ‘membagi kisah’ seraya membunuh waktu sambil ngerasa-rasain badan yang greges-greges minta istirahat.


Selalu menang? No. Dia ikut lomba ini hanya karena alasan suka matematika. Dia selalu tak sabar dan berjingjrak bila besok ulangan matematika. ‘Aneh’ untuk sebagian orang, tapi emak lebih memilih untuk mensyukurinya.

Kompetisi pertama dia ada diurutan 6 dari sekirar 70-an siswa

Tak patah arang.

Lomba kedua dia ada di urutan 5 dari 100-an siswa.

Naik urutan dia terbakar ikut lomba ketiga, dan tetap tidak masuk 3 besar. Bahkan sampai detik ini dia masih penasaran ada diurutan keberapa karena hanya 3 besar yang diumumkan.

Dan pagi ini, emak kembali mengantar tunggu dia untuk ikut lomba keempat, lomba serupa di tempat yang berbeda.

“Kakak, kalo pas mau lomba gini masih deg-degan?”

“Enggak!!”

“Good girl!!”

“Napa emang?”

“Gpp, artinya kamu tidak punya beban, ketika melakukan sesuatu tanpa beban biasanya hasilnya lebih baik.”

“Have fun aja bu!!”

“Yups, itu namanya kamu dah terbiasa…Bismillah aja!!”

Sampai di tempat acara, ketika pembukaan diumumkan jumlah peserta. Lomba mapel matematika yang dia ikuti diikuti oleh 348 siswa kelas 5 dan 6 dari 59 sekolah negeri/swasta sekota/kab.Bogor.

Ibu mendengar itu cuma bisa mbatin “wow!!”. Entah apa yang dibenak di anak yang sedang baris di lapangan. Emak harap dia “nothing to lose” aja.

Setiap proses adalah pelajaran. Meyakini tidak ada yang sia-sia dari sebuah ikhtiar menuntun anak. Walau hanya bisa dilakukan dalam bentuk duduk ndeprok nungguih dia kerjakan 40 soal dalam waktu 120 menit.

Keep spirit Nduk, ibu terkesan dengan semboyan karate yang diikuti adikmu bahwa :

TUJUAN UTAMA DARI SEBUAH PENDIDIKAN BUKANLAH JUARA, TAPI MENERBITKAN PRIBADI JUJUR DAN LUHUR.

Bismillah…

Bogor,16032019

blognyaelin.wordpress.com

 
Leave a comment

Posted by on March 16, 2019 in Uncategorized

 

Aku Ibu tanpa teori.

Bukan ibu peri, hanya Ibu tanpa teori.


“Mas makan!”


“Malas makan bu, capek.”


“Ibu suapin mau?”


“Mauuuu!!”


Dan satu piring porsi besar habis dilahap si sulung sepulang lea malam itu.


“Bayi tua disuapin!” canda bapake saat ibu nyuapin mulut besar itu.


“Iya nih berasa nyuapin kuda nil, harusnya nyuapnya pake sendok semen!” balas canda emak sarkas.


Si anak cuma mesam- mesem gak tahu malu.


****

Ngapain sih Ibu? Ngajarin anak manja?


No! Kadang anak perlu perhatian lebih ketika dia sedang lelah.


Ibu tahu dia bukan tipe anak manja, namun ada saat suapan tangan Ibu dia kangeni untuk memanggil nafsu makannya.


Bukan Ibu peri yang bisa simsalabim membuat anak mandiri, bukan pula ibu penuh teori, hanya berusaha menjadi sosok yang dia mau ketika dia butuh, cuma itu. Dan itu cukup ampuh menumbuhkan rasa sayang dan rasa segan dan pikir beribu kali untuk (suatu saat) jika dia dihadapkan pada situasi untuk melawan orang tua. 


****

“Kakak bobok!!”

“Gak bisa bobok dimeremin juga!”

“Pasti mikirin TO besok!” terbaca karakter dia yang pemikir dan tidak percaya diri (khas emaknya).

“Temenin tidur malam ini ya Bu, please!”

Malam itu emak tidur di kamar gadis.

Nanti kebiasaan?

Hmm…rasanya tidak ada salahnya berada di sisinya ketika dia butuh. Semoga pelukan emak malam itu bisa meluruhkan kegalauannya. Itu aja, tanpa sempat berpikir ulang tentang teori kemandirian anak.

****

“Capekkkk!!!”

Setengah merengek menahan rasa kantuk, bungsuku sepulang latihan karate suatu malam.

“Mau gendong?”

“Mauuu!”

Dan kugendong si anak sampai parkiran, tanpa sempat kupedulikan orang sekitar yang ‘meledek’.

“Kok karate kid minta gendong?!”

“Ih azzam jalan dongg!!”

Latihan 2 jam di waktu malam, untuk anak sekecil dia bagiku cukup paham betapa kantuk dan lelah wajar melanda.

“Emang gak malu anaknya digendong?”

Hmm…batas malunya ada ketika dalam kedaaan normal segar bugar.

Bagi emak, menggendongnya bukan mengajarkan manja, hanya memberi tanda emak menghargai lelahnya. Itu aja, tanpa berpikit ulang teori mengajarkan tentang daya juang anak. Karena daya juangnya sudah dalam batas mampu anak seusia dia.

****

Sekedar berbagi cerita, menuntun anak yang bukan tanpa cela. Dituntun emak yang tertatih-tatih menetah.

Emak yang marah besar ketika si anak tiba-tiba membentak hanya gara-gara baterei hapenya habis ketika main hape.

Emak yang berteriak keras ketika anak sulung masih saja syik main game lewat jam 9 malam.

Emak yang tidak terima ketika mendapati kaos kaki dia atas meja makan.

Namun sekaligus menjadi emak yang kadang dianggap memanjakan anaknya.

Karena emak bukan ibu peri yang lemah lembut dan baik hati.

Bukan pula ibu penuh teori yang banyak pantangan dan larangan di semua lini.

Saat membagi ini emak merasa benar? Tidak, justru saat ini emak sedang instrospeksi diri.

***

KETIKA DIRI MERASA DIDIDIK TANPA BANYAK TEORI, BISA JADI SAAT ITU DIRI MENITISKAN POLA ASUH, DENGAN DOA SEMOGA HASILNYA LEBIH BAIK DARI DIRI INI.

_menoreh jejak-jejak kecil menjadi ibu_

Bogor, 14032019

blognyaelin.wordpress.com

 
Leave a comment

Posted by on March 14, 2019 in Uncategorized

 

Tetaplah menjadi baik!

Nemu quote ini barusan di sebuah berita : “Dunia akan lebih baik kalau kita melakukan hal baik. Tidak harus yang paling baik ataupun terbaik”.


Kuseret ke peran recehku sehari-hari. 


Ketika mulai masuk ke jalanan pagi-pagi meniatkan diri jadi pengendara baik. Selalu ingat di otak bahwa jalan itu milik bersama.


Nyatanya belum juga keluar komplek , sudah disemprot omelan pengendara yang minta jalan mau belok. Yang lurus siapa? yang belok siapa? yang ngomel-ngomel siapa?


Ah sudahlah, kusudahi dengan minta maaf dan ucapan salam, sambil bertanya ke sulung dibangku penumpang,”salah Ibu apa Mas?” dan si anak cuma menggeleng.


KADANG UCAPAN MAAF DAN TERIMA KASIH BISA MEREDAKAN EMOSI.


Ketika sampai di parkiran, mengingatkan diri jadi pemarkir yang baik. Berusaha berhenti tanpa melebihkan jatah, apalagi mengambil jatah parkir kendaraan lain.


Kenyataannya, sore ketika pulang emak supir ini tak bisa membuka pintu karena dipepet pemarkir sebelah kanan.


Ah sudahlah, masuk saja emak lewat pintu penumpang.


KEBENARAN ITU TETAP BENAR DENGAN SENDIRINYA TANPA DIUNGKAPKAN, APALAGI MENUNGGU BALASAN.


Ketika sampai duduk di kantor, meniati jadi pegawai yang baik. Semoga selalu memudahkan urusan orang lain.


MEYAKINI, SIAPA MEMUDAHKAN URUSAN ORANG LAIN, MAKA ALLAH AKAN MEMUDAHKAN URUSANNYA.


Sampai lagi balik rumah, ini yang paling sulit. Bismillah meniatkan diri, tarik nafas dalam-dalam, untuk sabar melayani kehebohan anak-anak setelah seharian ditinggal. 


Baru aja niat, baru aja sebelah kaki turun dari kendaraan.


“Ibuuuu, bawa gak pesanan rendang aku?”


Deg, lupa asli dengan adanya pesanan makanan itu.


“Ah Ibu mah khan udah ama kasih alarm di hape, udah ditulis juga. Trus besok aku bekel apa dong?” muka merengut, bersungut-sungut.


Tarik nafas dalam-dalam….baru buka pintu.


“Ibuuuu, baju karate aku belum dipasang INKAI nya, ibu pasti lupa…bla ..blaa..bla…!!”


Hufff, okeeee, siyappp grak. Mendudukan bokong di kursi, lempar kunci.


“Ibu aku besok pemotretan buku tahunan harus pake baju warna terang!!” sulung santai dengan mata tetap di hape.


“Ada bajunya??”


“Gak ada!!”


“Trus gimana??”


“Gak tahuuuu…!!”


Hmmmm….baiklahhh…rendang, benang, dan baju warna terang, menantang untuk menjadi emak sedikittttt sabar!!.


BAHWA SEDIKIT MENJADI BAIK ITU JAUH LEBIH SULIT, BAHKAN DIBANDING BERBUAT SANGAT JAHAT SEKALIPUN, MAKA BERSABARLAH.


*akudansoretadi*


Bogor,14032019


blognyaelin.wordpress.com

 
Leave a comment

Posted by on March 14, 2019 in Uncategorized

 

Lombamu ladang belajarmu

Mental juangmu itu modalmu.

“Kok gak dapat ya?, keluh sesalnya setelah pengumuman olimpiade matematika minggu lalu diumumkan dan namanya tidak ada di 4 besar.

“Aku cuma peringkat 7 bu!” Nada kecewa terlihat jelas dari kata ‘cuma yang dipakainya.

Matematika, entah apa menariknya pelajaran itu buat dia. Entah harus senang atau tidak, yang pasti emak hanya bisa mensupport ketika dia sering ‘hunting’ dan ikut lomba-lomba jenis itu. Menunggu berjam-jam ketika dia lomba sampai pengumuman adalah perjuangan sendiri buat emak. Sampai kadang terkantuk dan terlapar-lapar di tempat perlombaan.

Bagiku, bukan prestasi dan juara yang jadi tujuan utama, yang lebih mahal dari segalanya adalah pelajaran hidup dan rasa nyaman anak dengan passionnya didapat di setiap lomba yang dia ikuti.

Seperti lomba minggu lalu itu, aku tahu ada (tersirat) rasa sombong di benaknya. ‘Overconfidence’ mungkin itu tepatnya. Ada rasa selalu menjadi juara dan ketika mendapati kenyataan di luar dugaannya dia kecewa. 

“Ama tahu arti istilah di atas langit ada langit?”

“Apa?”

“Dari segala yang kita punya pasti ada yang lebih dari yang kita punya.”
“Ama (merasa) pinter ada yang lebih pinter, Ama (merasa) rajin ada yang lebih rajin!”

“Ama (merasa) miskin, (merasa) kaya, pasti ada yang lebih miskin dan lebih kaya!”

“Maksud Ibu?”

(Tersadar emak berkalimat terlalu berat)

“Dalam hal apapun tidak boleh ada rasa sombong sedikitpun walau hanya di hati!”

“Ama gak sombong!”

“Ibu tahu Ama gak sombong dan jangan pernah sombong karena kesombongan menghalangi jalan kesuksesan!”

Sejatinya di lomba saat itu, si emak sangat paham ketika dia merasa (walau tak pernah terucap dari mulutnya) ada rasa heran dan kecewa ketika teman satu kelasnya yang menurut dia ‘mudah dikalahkan’ ternyata ada diperingkat 3 sedang si anak hanya ada di peringkat 7.

“Masih sedih?” kubuyarkan lamunannya di jok tengah sepulang lomba.

“Minggu depan Ama mau ikut lagi yang di sana!”

(Sujud syukur ya Allah, pelajaran hari ini dia lulus ketika bisa belajar besar hati dan tetap semangat walau kalah)

“Ama tahu, dulu ibu ketika SD juara trus, eh masuk SMP dan SMP ibu merasa ‘nothing’. Gak ada apa-apanya ketika ketemu banyak anak-anak yang lebih dan lebih segalanya. Awalnya ibu kecewa, tapi lama-lama ibu sadar, tidak satu anak yang mau maju, tapi banyak anak yang mau maju. Jadi maju bersama lebih baik daripada ingin ‘menonjol’ sendiri!”.

(Dia cuma diam entah karena pusing dengan kalimatku, namun syukur–syukur meresapi).

****

Dua minggu berlalu, sampai hari ini dia ikut jenis lomba yang sama di tempat lain. Kulihat dia lebih santai dan lebih matang secara mental.

Tidak grogi dan salah tingkah tunggu pengumuman.

Sampai akhir lomba dan diumumkan hasilnya, Alhamdulillah 2 peringkat lebih naik dari sebelumnya. 

Dari kejauhan di tengah lapangan mukanya sumringah sambil angkat 5 jari ke arahku, “dapat nomor 5” kubaca gerak mulutnya dan kubalas dengan 2 jempol.

Ada lega di dada ini, si anak sudah bisa menghargai proses walau belum sampai di puncak prestasi.

Dari sekitar 80-an anak yang ikut, jadi 5 besar udah cukup bikin ibu haru, haru karena anak ini tidak hanya berhasil berjuang mengerjakan soal tapi berhasil berjuang mengalahkan ego dan ambisinya untuk (merasa) : “akulah juaranya!!”

****

Kuelus kepalanya,”ama hebat!!”

“Tapi lom dapat piala bu, cuma sertifikat!”

“Ndakpapa, lebih baik dari hasil sebelumnya itu udah piala!”

“Sedih?”

“Maret aku daftarin lagi lomba yang disana dan disana ya bu!!”

Hmmm….baiklah Nak doakan Ibu sehat secara fisik dan rejekinya. 🙂

Jangan jadikan prestasi anak ambisi (orang tua), cukup jadi ladang anak temukan jati diri dan nyaman dimanapun kelak dia berdiri.

Bogor23022019

*yang tersisa dari sebuah lomba matematika*

 

 
Leave a comment

Posted by on February 23, 2019 in Uncategorized

 

Tak kenal maka tak sayang

Suatu sore, 

Tetiba ada chat Whats App masuk :

“Elin, Umi nemu kucing kasian di jalan mau ketabrak motor. Umi pinggirin, dia ke tengah lagi. Umi pinggirin lagi, eh dia ke tengah lagi. Sampe Umi jalan pulang, eh dia malah ngikutin Umi. Kasian ya Lin, kucingnya Umi simpen di belakang rumah Elin, soalnya di rumah Umi banyak kucing-kucing gede takut digalakin dia.”

Kubaca dan kurespon singkat : “Iya Mi.”

‘Uh kucing….hewan yang bahkan memegangnya aku takut. Geli takut nyakar’ Aku membatin sendiri.

‘Sekarang ada hewan itu di rumah. Umi nih ada-ada aja’ Hati masih bergumul sebal.

*****

Kucing.

Hewan yang berkeliaran dimana-mana ini memang bukan menjadi pilihanku untuk dipelihara di rumah. Selain karena banyak ikan-ikan di belakang rumah, banyak pikiran-pikiran buruk memenuhi kepala tentang kucing.

Dalam pikiranku :

1. Kotoran dia bau, kebayang kalau dia BAB di sembarang tempat. Belum lagi pipisnya.

2. Hewan ini berbulu, pasti kalau dalam rumah bulunya bakal rontok-rontok gitu trus kalau keisep bocah-bocah gimana kumaha tah.

3. Memelihara binatang artinya ada tanggung jawab untuk makan dan kesehatannya, kumaha lamun sakit? kumaha makannya? “Ah riyeut nambah-nambah pengeluaran aja!”

4. Hewan berbulu ini pasti jorok dan bau. Kebayang aja khan kalau keliaran di dalam rumah.

5. Dia itu terkenal sebagai pencuri makanan. Wah, gak bakal amanlah simpan-simpan makanan di meja makan.

Dan lain-lain prasangka buruk di pikiran ‘jahat’ diri.

****

Tiga bulan kemudian, 

Blassss….pikiran-pikiran ‘jahat’ itu hilang seketika setelah kurang lebih 3 bulan ‘anak kecil’ ini bersama kami. Bahkan amazing buat emak penakut kucing ini ketika bertambah dengan ajaib 1 kucing di belakang rumah dan 3 kucing di depan rumah yang setia ‘ngegelibetin’ kaki pas pulang kerja.

Yups, kurang lebih 5 kucing ‘kampung’ yang mewarnai rumah kami sekarang. Walaupun yang tinggal menetap ‘nggelibet’ dalam rumah ya si kucing yang dibawa nenek itu dan anak-anak menamainya : oci moci maroci. 

****

‘Ceilehh Lin, baru pelihara kucing 1 aja pamer? Dah berasa jadi cat lover??’

‘No, diri gak bakalan berani menyebut diri cat lover….jauhh….lha wong sampe sekarang meluk kucing aja lom berani. Baru berani sebatas mengelus-ngelus dan membiarkan dia bobok manis di pangkuan. Itu udah luar biasa bangettt buat emak ‘galak’ ini’

‘Lantas ngapain pake nulis-nulis tentang kucing segala?’

‘Hanya ingin bilang bahwa kedatangan anak kucing di rumah ini membawa kehangatan dan keberkahan. Semua pikiran jahat gw sebelum datang mereka gak terbukti sama sekali!!”

****

Karena faktanya :

1. Selama diajari kucing itu ternyata tidak akan BAB dan pipis sembarangan. Beneran, lagi asyik nonton TV dalam rumah trus dia kebelet gak bakalan tuh dia PUP di sofa, dia bakalan lari ke pasir yang biasa dia PUP.  Yaaa, kalau soal bau mah bau, namanya juga kotoran, tapi entah kenapa rasa jijik itu berangsur hilang seiring tumbuhnya rasa sayang.  Mana ada sih makhluk hidup yang gak buang kotoran?? Dan mana ada kotoran yang harum?? Selama kita tetap rajin menjaga kebersihan tempat PUP-nya. So far, baik-baik aja. 

2. Bulu yang rontok, sampai saat ini lom nemu rontokannya karena rajin dibersihkan dan dirawar. Dan anak-anak yang peluk cium dia, baik-baik aja.

3. Tentang pengeluaran yang bertambah karena keberadaan dia itu betul, tapi ajaib dan entah mungkin inilah yang dinamakan berkah, justru rejeki buat ngurus dia mengalir terus. Dari mulai steril, vaksin, makanan mereka ada aja rejekinya tanpa melimbungkan roda keuangan. 

“Ah elu mah dah kaya kali Lin makanya gak ngaruh?!” (ku-aamiin-kan aja deh ya)

Hmmm….baiklah akan kuceritakan sebuah fakta. Tentang seorang penjual nasi uduk (orang terdekat) yang dengan niat Bismillah memberi makan banyak kucing kampung yang ‘nggelibetin’ warungnya. Kalau secara itung-itungan di atas kertas gak keuber kudu mengeluarkan biaya buat beli makanan kucing-kucing itu. Tapi faktanya 15 ribu perhari sanggup dia keluarkan untuk membeli makanan kucing, belum vaksin, steril, dll. Warungnya Alhamdulillah tambah mayeng, sudah bisa punya pekerja dan menggajinya. 

Riyeut??”

“No!! Yang ada hati selalu bahagia!”

Itulah yang kunamakan ‘BERKAH’. Bukan tentang ukuran banyak untuk menjadi kaya dan berbagi. 

4. Dia jorok dan bau?? Salah besar ternyata, hewan ini rajin sekali beberesih. PUP yang dikeluarkan dia tutuplagi pasir sampai dia pastikan tidak tercium bau lagi. Hewan ini rajin sekali mandi menjilati bagian-bagiam tubuhnya yang dia anggap kotor. 

5. Pencuri??? Lebih tepat dia mengambil (terpaksa) karena lapar. Kalau tidak lapar gak bakalan dia mencuri. Bahkan tempat sampah saja dia koyak-koyak karena lapar. Jadi please manusia,  “Jangan pelit untuk berbagi makanan dengan aku!” “Sisakan sedikit saja daging di tulang yang kau buang itu!” “Syukur-syukur kau sedekahkan makanan utuh buatku!”

Satu lagi cerita yang menginpirasi tentang makhluk lucu ini. Ketika seorang emak kucing mencuri makanan, itu tanda dia ingin sekali membawa oleh-oleh makanan untuk anak-anaknya yang menunggu kelaparan. Sedih bukan? Sampai roti di warung dia ambil, dihadiahi sambitan sapu ke badannya, lantas dia berlari ke kebun. Ternyata ada anak-anaknya yang menunggu kelaparan.

“Jika tidak ikhlas memberi, jangan pulak kau sakiti aku!”

****

Cukuplah sudah kesoktahuan emak ini mengoceh. Setidaknya sekarang tidak lagi menyorong-nyorong kucing pake sendal kalau dia mendekar, apalagi menendangnya. Karena dia mendekat hanya karena minta makanan atau butuh dielus-elus saja.

Setidaknya emak ini jadi sadar sedekah itu tak harus ke manusia lagi, ada begitu luas jalan untuk bersedekah, salah satunya dengan berkeliarannya makhluk ini dimana-mana.

Rumah terasa hangat dengan kehadirannya. 

****

“Ibu, tas Ibu bau ikan!”

“Ups lupa ada makanan kucing di dalamnya!”

“Buat apa dibawa-bawa?”

“Ah kali-kali aja ada rejekinya kucing di jalanan dari tas Ibu!”

****

JIKA TIDAK SANGGUP MENJADI ORANG BAIK, JANGAN JADI ORANG JAHAT. 

JIKA BELUM MENGENAL DENGAN BAIK, JANGAN JUGA BERPRASANGKA JAHAT. 

KARENA JIKA TAK KENAL, MAKA TAK SAYANG

Bogor29112018
blognyaelin.wordpress.com

 
Leave a comment

Posted by on November 29, 2018 in Uncategorized